Selasa, 23 Juni 2009

Teknik Pengelolaan Kelas


Dalam salah satu tulisannya Raka Joni mengupas tentang pengelolaan kelas. Menurutnya pengelolaan kelas merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai guru. Pengelolaan kelas berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu :
1. Masalah Individual :
• Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
• Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan)
• Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
• Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok.
2. Masalah Kelompok :
• Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.
• Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya.
• Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya.
• “Membombong” anggota kelas yang melanggar norma kelompok.
• Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
• Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru, karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru.
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan
Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Upaya memodifikasiperilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Kendati demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding).
Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.
Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat; memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik.
Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.
Group Process Approach
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c) attraction (pola persahabatan); (c) norm; (d) communication; (d) cohesiveness

PSIKOLOGI KEPENDIDIKAN



1. Setiap guru profesional yang arif ia kadangkala tak lupa memberikan motivasi kepada siswanya dalam proses belajar dan pembelajaran ;
a. Kenapa diperlukan motivasi belajar untuk siswa ?Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut (Wlodkowski:1985). Berdasar rumusan tersebut motif merupakan faktor dinamis, penyebab seseorang melakukan perbuatan. Suatu perbuatan dapat ditimbulkan oleh sesuatu motif. Namun juga bisa disebabkan oleh beberapa motif. Dalam belajar, motivasi punya peranan yang penting. Siswa tidak akan belajar dalam arti yang sebenarnya kalau tidak ada motif.Sebagai guru sulit rasanya untuk meningkatkan intelegensia pelajarmaka sebagai seorang motivator, guru hendaknya dapat membangkitkan minat belajar siswa dengan cara memotivasi siswa.Ada enam hal yang perlu dilakukan oleh guru : 1. Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar 2. Menjelaskan secara konkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran 3.Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik dikemudian hari 4. Membetuk kebiasaan belajar yang baik 5. Membantu kesulitan belajar siswa secara individu maupun kelompok 6 Menggunakan metode mengajar yang bervariasi b. Kemukakanlah macam-macam motivasi tersebut dengan contoh masing-masing !Motivasi belajar siswa dibagi 2 yaitu : (1) Motivasi intrinsik : adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Contoh; setiap siswa akan berusaha belajar karena menginginkan nilai baik.(2) Motivasi ekstrinsik : adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Contoh ; seorang siswa akan tergerak motivasi belajarnya setelah melihat temannya sukses mengerjakan suatu pemecahan soal yang dianggapnya sulit.2. Kepada setiap guru sangat dituntut untuk mengetahui dan mencermati tipe belajar siswanya. a. Untuk apakah gunanya mengetahui berbagai tipe belajar siswanya ?Bagi seorang guru mengetahui berbagai tipe belajar siswa sangat penting karena dapat digunakan sebagai modal dasar pembimbingan bagi pesertadidik dan memilih metode mengajar yang tepat termasuk penggunaan media pembelajarannya. b. Kemukaanlah berbagai tipe belajar tersebut dengan contoh masing-masing !Cara belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan cara belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.
Cara belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Pada dasarnya, cara Belajar terdiri dari tiga tipe,yaitu ;
1. Visual: anak yang mempunyai cara belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.
2. Auditori: anak yang mempunyai cara belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakana. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan_kaset.
3. Taktil/Kinestetik: anak yang mempunyai cara belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat

Setelah orang tua mengidentifikasikan cara belajar anaknya, akan lebih baik jika orang tua juga mendorong anaknya belajar melalui cara yang dia miliki. Di bawah ini ada beberapa strategi untuk mempermudah proses belajar anak:
Anak Visual:

1.Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
2.Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting3.Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi4.Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video)5.Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
Anak Auditori:

1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas Maupun di dalam keluarga2.Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
3.Gunakan musik untuk mengajarkan anak4.Diskusikan ide dengan anak secara verbal5.Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong Dia untuk mendengarkannya sebelum tidur
Anak Taktil/Kinestetik:

1.Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
2.Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek Sesungguhnya untuk belajar konsep baru)3.Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
4.Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik